Gw baru
benar-benar "memaknai" kalimat diatas sejak skripsi. Habis, kalau ada
yang gw nggak ngerti, orang-orang pasti bilang, "baca dulu deh
bukunya!", dosen gw selalu bilang, "mana bukunya? Karangan siapa?", dan
sudah berhari-hari ini gw mencari buku statistik multivariat karangan
Wanakota yang raib di pasaran. Bisa dibilang, gw menghabiskan waktu
sangat banyak untuk mencari-cari buku ini, ke perpus cisral dan perpus
ekstensi. Katanya sih, buku ini memang langka, ahuhuhuhu….
Sebenernya gw banyak berpikir, kenapa ya kayaknya siksaan gw nggak sebesar ini pada waktu buat karya ilmiah Mapres, padahal kan
judulnya sama-sama "karya ilmiah", yah walaupun yang kemaren bersifat
kualitatif. Sebenarnya ini gara-gara jasa internet sih, soalnya semua
bahan gw kemaren berasal dari internet. Nggak kebayang deh apa jadinya
dunia ini tanpa internet, nggak kebayang sepuluh tahun lalu semua orang
mencari-cari sumber di perpustakaan…
==> ai'ma bukz loppphher....
Kali ini internet juga banyak berjasa,
buktinya gw dapet thesis customer perceived value dari internet, yang
sedikit banyak menyelamatkan nyawa gw juga. Cuma, ada hal-hal yang
nggak bisa dilakukan sama internet, salah satunya ya buku itu. Mana ada
sih isi buku dibeberkan di internet? Memang ada e-book, tapi biasanya
itu karangan barat semua. Mana ada buku Indonesia
yang dibikin e-booknya? Makanya itu gw bilang buku adalah jendela
dunia, jendela yang nggak bisa digantikan oleh apapun. Kalau tinjauan
pustaka, ya mesti dari pustaka, bukan dari internet. Makanya itu,
mungkin walaupun jaman sudah berganti, dan IT sudah merajalela, tetap
belum ada yang bisa menggantikan buku.
Posted at 03:15 pm by
stephanie_cute